Arsip Berita 2011

Januari 2011

Depok Kekurangan Lahan TPU

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 02 Januari 2011 

DEPOK, (PRLM).- Di Kota Depok masih kekurangan tempat untuk lahan Taman Pemakaman Umum (TPU). Yang ada dinilai belum memadai. Pasalnya, dari 100 m2 lahan menampung 35 makam dengan jarak kurang dari 45 cm. Seperti yang terjadi di TPU Kalimulya I, kapasitas lahan seluas 3 hektare menampung lebih dari 10.725 makam. Sedangkan idealnya hanya mampu menampung 10.500 makam saja.

“Artinya, ada makam keluarga yang ditumpuk di lahan tersebut. Ini biasanya disepakati terlebih dahulu oleh pihak keluarga,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Taman Pemakaman Umum Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok, Esrom A Waang kepada wartawan, Minggu (2/1).

Dia menjelaskan, saat ini Kota Depok hanya memiliki tujuh lokasi TPU yang tersebar di empat kecamatan saja. Di antaranya, Kecamatan Cilodong di tiga lokasi (Kalimulya I, II dan III), Kecamatan Tapos di dua lokasi (Cimpaeun dan Tapos), Kecamatan Sawangan (Pasir Putih) dan Kecamatan Bojong Sari (Pondok Petir). Dari tujuh lokasi tersebut, sambung Waang, hanya enam lokasi saja yang baru beroperasi. “Satu lokasi di Kelurahan Pasir Putih saat ini baru dalam proses pembukaan lahan. Luasnya sekitar 8.102 m2,” ungkap Waang.

Tujuh lokasi TPU tersebut, yang paling diminati adalah TPU Kalimulya I lantaran dinilai lebih strategis. TPU ini memuat makam campuran antara muslim dan non muslim. Sedangkan di TPU Kalimulya III khusus diperuntukkan bagi kaum non muslim dengan luas 3,5 hektare. “Saat ini di Kalimulya I sudah penuh. Bahkan beberapa makam ada yang ditumpuk. TPU Kalimulya I memang banyak diminati karena letaknya dekat dengan pemukiman, tanahnya rata dan sudah ada anggota keluarga yang sebelumnya dimakamkan di situ,” tutur pria asal Bogor, Jawa Barat ini.

Menurut dia, berdasarkan Peraturan Daerah (perda) No 40 tahun 2000 tentang retribusi izin pemakaman setiap ahli waris wajib mengurus izin setiap satu periode. “Satu periode itu lamanya tiga tahun,” katanya.

Dia mengimbau kepada ahli waris untuk terus melakukan perpanjangan agar makam keluarga mereka tidak hilang. Berdasarkan pengalaman, ujar Waang, ada ahli waris yang sudah bertahun-tahun tidak mengurus dan mencari makam keluarga namun sudah tidak ada. “Untuk itu sebaiknya perizinan terus diurus, jangan ditelantarkan,” imbaunya.

Dalam Perda tersebut diatur pula jarak antarmakam, yaitu 45 cm. “Namun memang ada makam yang jaraknya kurang dari ketentuan lantaran sudah penuh,” tandasnya. Untuk itu pihaknya meminta kepada dinas terkait lainnya agar memperhatikan hal ini. “Depok kekurangan lahan TPU,” tukasnya.

Menanggapi ha tersebut, Anggota Komisi C DPRD Kota Depok Sutopo mengatakan, akan berkordinasi dengan pihak terkait lain untuk mengatasi masalah ini. Dia akan mengusahakan adanya lahan TPU yang dinilai strategis sehingga tidak bertumpuk pada satu TPU favorit saja, semisal yang terjadi di TPU Kalimulya I. “Seharusnya hal ini dapat diantisipasi sejak sekarang sehingga nantinya tidak ada warga yang menumpuk makamnya,” tutur anggota Fraksi Demokrat ini.

Dia menambahkan, lokasi TPU di Depok memang masih berada di sejumlah lokasi yang dinilai strategis. Pihaknya melalui dinas terkait lain akan melakukan kajian lebih lanjut akan hal ini. “Kalau tidak diantisipasi dari sekarang nanti khawatir akan menjadi permasalahan baru,” pungkasnya. (A-163/das)***

Depok Kekurangan Lahan Pemakaman

Pelita, 04 Jan 2011 
Sumber: http://bataviase.co.id/

Lahan Taman Pemakaman Umum (TPU) yang dimiliki Pemkot Depok saat ini dinilai sudah tidak lagi memadai. Padahal Pemkot Depok telah memiliki tujuh lokasi TPU yang tersebar di empat kecamatan, yakni di Kecamatan Cilodong (Kalimulya I, H dan . Ill), Kecamatan Tapos di dua lokasi (Cimpaeun dan Tapos), Kecamatan Sawangan (Pasir Putih dan Bojong Sari).

Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Taman Pemakaman Umum Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok, Esrom A Waang. Kekurangan lahan terjadi pada TPU Kalimulya I. Kapasitas lahan seluas 3 hektar harus menampung lebih dari 10.725 makam dengan ketentuan 100 m2 lahan menampung 35 makam dengan jarak kurang dari 45 an. Seharusnya, kata Waang, idealnya lahan 3 hektar menampung 10.500 makam. “Masih banyak makam yang ditumpuk di lahan tersebut. Penumpukan makan biasanya atas dasar kesepakatan keluarga,” ujarnya.

Dari tujuh lokasi TPU yang dimiliki, kata Waang, hanya enam lokasi saja yang dioperasikan. TPU Kalimulya merupakan lahan yang paling diminati masyarakat karena lokasinya sangat strategis dan sebagai makam campuran antara muslim dan non muslim. Sedangkan Kalimulya ni diperuntukkan khusus untuk non muslim dengan luas 3,5 hektar. “Saat ini di Kalimulya I sudah penuh. Bahkan sudah terjadi penumpukan makam,” imbuhnya.

Menurut dia, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) No 40 tahun 2000 tentang retribusi izin pemakaman setiap ahli waris wajib mengurus izin setiap satu periode. “Satu periode itu lamanya tiga tahun,” imbuhnya. Dia mengimbau kepada ahli waris untuk terus melakukan perpanjangan agar makam keluarga mereka tidak hilang. Berdasarkan pengalaman, ujar Waang, ada ahli waris yang sudah bertahun-tahun tidak mengurus dan mencari makam keluarga namun sudah tidak ada. “Untuk itu sebaiknya perizinan terus diurus, jangan ditelantarkan,” in baunya.

Dalam Perda tersebut diatur pulayarak antar makam, yaitu 45 an. “Namun memang ada makam yang jaraknya kurang dari ketentuan lantaran sudah penuh,” tandasnya. Untuk itu pihaknya meminta kepada dinas terkait lainnya agar memperhatikan hal ini. “Depok kekurangan lahan TPU,” tukasnya

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi C DPRD Kota Depok Sutopo mengatakan, akan berkordinasi dengan pihak terkait lain untuk mengatasi masalah ini. Dia akan mengusahakan ada- nya lahan TPU yang dinilai strategis sehingga tidak bertumpuk pada satu TPU favorit saja, semisal yang terjadi di TPU Ka-limulya I (ck-26)

Maret 2011

TPU Kalimulya 1 Terapkan Sistem Tumpang

Republika, 21 Maret 2011

Sumber: http://202.52.131.11/node/609848

PANCORAN MAS – Kurangnya minat masyarakat untuk memakamkan familinya yang telah meninggal di pemakaman pemerintah yang lain menyebabkan Taman Pemakaman Umum (TPU) Kalimulya 1 Depok hampir penuh. Selain sosialisasi pemerintah yang kurang, juga karena lokasi pemakaman lain yang jauh dari perumahan penduduk.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Ulis Sumardi, mengatakan, pemerataan pemakaman masih kurang. “Masyarakat banyak yang terfokus ke Kalimulya 1, padahal pemerintah sudah menyediakanlahan di Kalimulya 2 dan 3,” ujarnya akhir pekan lalu.

Menurutnya, banyak masyarakat yang terfokus pada Kalimulya 1 karena TPU tersebut merupakan TPU pertama pemerintah. Selain itu, lokasinya pun tidak terlalu jauh dari pusat kota. Karena banyaknya warga yang berminat untuk memakamkan saudaranya di sana, mereka pun tidak keberatan dengan diterapkannya sistem tumpang.

“Sistem tumpang ini sudah lama diterapkan sebenarnya. Hanya saja teknisnya diatur oleh Perda tentang pemakaman. Yang boleh ditumpang itu adalah makam yang masih keluarga, seperti ayah dan anak, atau suami dan istri,” katanya. Sistem tumpang ini pun bukan hal yang disarankan oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ini justru merupakan permintaandari keluarga ahli waris. cO2 ed maghfiroh yenny

Mei 2011

Tujuh TPU di Depok akan Dimerger 

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/  09 Mei 2011 

DEPOK–MICOM: Merger tak hanya bank dan sekolah, merger juga berlaku di pekuburan. Sebanyak tujuh taman pemakaman umum (TPU) di Kota Depok yang berisi 13.972 jenazah akan dimerger.

Hal itu dilakukan untuk mengefisienkan operasional TPU. Di pihak lain, menjadikan TPU sebagai kawasan hijau dan taman kota.

Kepala Dinas Kebersihan Pertamanan Kota Depok Ulis Sumardi menjelaskan eks TPU diganti sebagai usaha produktif, disesuaikan dengan perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Depok 2011.

“Merger TPU secepatnya dilakukan. Kami minta kepada UPT (Unit Pelaksana Teknis) TPU Dinas Kebersihan Pertamanan Kota Depok untuk menyiapkan sesuatunya, termasuk inventarisasi luas makam di tujuh TPU di empat kecamatan,” jelasnya, di-sela-sela peninjauan 15 lokasi baru pembangunan Unit Pengolahan sampah (UPS) di Depok, Minggu (8/5).

Dijelaskan dia, pengoperasian tujuh TPU itu selama ini kurang maksimal sehingga terkesan angker. “Makanya, TPU itu dimerger untuk selanjutnya ditata menjadi kawasan hijau dan taman kota, yang nantinya menjadi wisata keluarga. Kami sudah sosialisasikan ke ahli waris,” jelasnya.

Berdasarkan data inventaris TPU Mei 2011 UPT Pemakaman Dinas Kebersihan Pertamanan Kota Depok TPU I Kali Mulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, luas lahan tiga hektare dengan kapasitas 10.500 jenazah, TPU II Kali Mulya luas lahan dua hektare dengan kapasitas 8.650 jenazah, TPU III Kali Mulya luas lahan dua hektare dengan 12.250 jenazah, dan TPU Tapos seluas 9.589 m2 dengan kapasitas 11.550 jenazah..

Lainnya, TPU Cimpeaun, Kecamatan Tapos, luas lahan 2,3 hektare dengan kapasitas 5.250 jenazah, TPU Pondok Petir Kecamatan Bojong Sari luas lahan 1,1 hektare dengan kapasitas 2.520 jenazah, dan TPU Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, luas lahan 3,2 hektare dengan kapasitas 2.835 jenazah.

Saat ini, jenazah di tujuh TPU mencapai sebanyak (13.972) jenazah. TPU I Kali Mulya (10.871) jenazah, TPU II Kali Mulya (1.685), TPU III (1.029), TPU Cimpeaun (155), TPU Tapos (62), dan TPU Pondok Petir (170) jenazah. “Kecuali TPU Pasir Putih seluas 3,2 hektare belum terisi jenaaah sama sekali sampai sekarang,” paparnya.

Kepala UPT makam Dinas Kebersihan Pertamanan Kota Depok E Waang menambahkan tujuh TPU merger akan disatukan di TPU I Kali Mulya, Kecamatan Cilodong, yang kawasannya strategis karena terletak di tengah Kota Depok. Selain itu, TPU I Kali Mulya mudah dijangkau kendaraan bermotor.

Merger makam, kata dia, juga terkait dengan rencana relokasi pemindahan terminal lama Jalan Margonda Raya ke terminal baru Kelurahan Jati Jajar, Kecamatan Tapos, dan pelebaran jalan lampu merah simpang tiga (Margonda-Dewi Sartika, Margonda-Raden Ajeng Kartini, Margonda-Siliwangi) ke Simpang Depok tembus terminal Jati Jajar dari 12 meter menjadi 24 meter.

“Jalan menuju TPU I Kali Mulya dilebarkan dari enam meter menjadi 12 meter,” ujarnya.

Ia juga mengatakan area makam TPU juga dipagar keliling dan seluruh sudutnya dilengkapi penerangan jalan umum (PJU) yang di dalamnya terdapat taman kota dan tempat wisata.

Sementara itu, anggota Komisi Infrastruktur DPRD Kota Depok Selamet Riyadi bin Abdul Shomad terkait merger tujuh TPU milik pemerintah mengatakan eks TPU harus dibangun hutan kota dengan aneka pepohonan.

“Masyarakat tidak dibolehkan membangun rumah di kawasan hijau TPU dan pemerintah daerah harus membebaskan lahan warga yang berada di dekat TPU I Kali Mulya. Tak hanya di jalur ini, tetapi tidak terkena pun harus dibebaskan agar dapat ditata ulang,“ tandas Selamet. (KG/OL-11)

Juli 2011

Perajin Batu Nisan di Depok Kebanjiran Order 

Sumber: http://www.metrotvnews.com/ 29 Juli 2011 

Metrotvnews.com, Depok: Jelang Ramadan, sejumlah perajin batu nisan mulai kebanjiran order. Bahkan dalam satu hari, perajin batu nisan bisa meraup omset hingga Rp6 juta.

Seperti yang dialami para perajin batu nisan di sekitar tempat pemakaman umum (TPU) Islam di Tanah Baru, Depok, Jawa Barat, mulai meraih berkah. Jika di hari biasanya perajin hanya mendapat omset sekitar Rp2 juta. Namun menjelang Ramadan seperti saat ini, mereka bisa meraih omset hingga Rp6 juta per hari.

Para perajin mengaku mulai kebanjiran order sejak awal bulan Juli lalu. Pesanan rata-rata datang dari warga Depok, Bogor, Bekasi bahkan Karawang. Selain hasil ukiran nisan yang bagus, harga yang ditawarkan perajin di Tanah Baru, Depok ini, cukup terjangkau, sehingga menjadi magnet bagi para pembeli dari luar Kota Depok.(RIZ)

Oktober 2011

FPKS Tegur Pemkot Soal Retribusi Pemakaman

Sumber: http://depoklik.com/ 19 oktober 2011 

Salah satu Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang diajukan kepada DPRD Depok adalah tentang masalah Raperda atas Perda No 40 tahun 2000 tentang pengelolaan dan retribusi tempat pemakaman.

Salah satu fraksi di DPRD yakni Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) meminta agar Pemerintah Kota Depok lebih tegas dalam memungut retribusi pemakaman.

Ketua FPKS Suparyono mengatakan selama ini sebetulnya biaya retribusi pemakaman hanya Rp 54 ribu. Namun kenyataan di lapangan, biaya retribusi bisa mencapai jutaan rupiah.

“Pemkot tegas dong, karena yang kami terima masuk ke kas daerah hanya Rp 54 ribu, tapi praktek di lapangan kan bisa sampai Rp 1,5 juta, ini larinya masuk ke tukang gali kubur,” katanya kepada wartawan, Rabu (19/10).

Seharusnya, kata dia, ada pengkajian dan kenaikan tarif retribusi pemakaman. Dan harus ada perhitungan yang lebih detail dengan tukang gali di pemakaman. “Misalnya, dinaikkan jadi Rp 300 ribu, tapi yang Rp 54 ribu tetap ke pemkot, lalu lebihnya tukang gali kubur, itu kan lebih jelas,” ujarnya.

DPRD juga tengah mengajukan wacana agar di Depok dilaksanakan pemakaman tumpang tindih. Hal itu lantaran ketersediaan lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang makin terbatas.  Icha

Biaya Pemakaman Membengkak

Warta Kota, 20 Oktober 2011 
Sumber:  http://bataviase.co.id/

Depok, Warta Kota

DPRD Kota Depok meminta Pemkot Depok bersikap tegas terhadap retribusi pemakaman. Sebab di lapangan masyarakat dikenakan Rp 1,5 juta untuk biaya pemakaman, padahal retribusi resminya hanya Rp 54.000.

“Warga kan menilai uang sebesar itu masuk ke kas Pemkot, padahal tidak. Yang Jelek kan Pemkot Depok. Besarnya biaya pemakaman Itu untuk biaya gall kubur. Pemkot harus tegas terhadap hal Ini. tandas Ketua Komisi B DPRD Kota Depok yang Juga merupakan Ketua Fraksi PKS. Suparyono dalam Rapat Paripurna penyampaian pandangan fraksi-fraksi tentang raperda perubahan enam Perda tentang retribusi dan Organisasi Peramgkat Daerah (OPD), Selasa (19/101.

Menurut Suparyono. Ia menyetujui Jika retribusi pemakaman Itu antara Rp 200.000-Rp 300.000. Perhltungannnya Rp 54.000 untuk retribusi pemakaman, sisanya untuk tukang gall makam. Tukang gall makam Itu di bawah Dinas Kebersihan dan Pertamanan IDKP). Mengenal status tukang gall Itu dapat bahas lebih lanjut. “Masa orang meninggal yang sudah tertimpa musibah harus membayar mahal untuk pema-kaman. Bagaimana dengan warga yang tidak mampu. Ini harus dibenahi.” ujarnya.

Suparyono mengatakan, pihaknya Juga mengusulkan Pemkot Depok melakukan pemakaman tumpang tindih atau bersusun. Ini sebagai antisipasi minimnya lahan pemakaman. Oleh karena Itu la meminta agar Pemkot Depok berkonsultasi dengan MUI Kota Depok. Umumnya fraksi-fraksi di DPRD dalam rapat paripurna itu menyepakati enam Raperda perubahan enam Perda. Karena itu. rapat yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Kota Depok Naming D Bothln menyepakati pandangan fraksi-fraksi tersebut.

Wall Kota Depok. Nur Mahmudi Isma II berharap dengan disepakatinya raperda tersebut maka pembahasannya dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana. Nur Mahmudi menambahkan bahwa Pemkot Depok sedang mempersiapkan peraturan baru agar semua rumah di Kota Depok memiliki pengolahan sampah. Selain Itu Juga pembuatan instalasi limbah cair di kawasan pemukiman Mengenal biaya cetak kartu KTP gratis, yang dikenakan biaya hanya untuk KTP yang hilang dan rusak. Itu semua merupakan denda atas hilang atau rusaknya KTP. Biaya yang dikenakan sebesar Rp 40.000 (dod)

Biaya Makam Kian Mencekik, Pemkot Depok Usul Pemakaman Bersusun

Sumber: http://www.lensaindonesia.com/ 21 Oktober 2011 

LENSAINDONESIA.COM : DPRD Kota Depok meminta Pemkot Depok bersikap tegas terhadap retribusi pemakaman. Sebab di lapangan masyarakat dikenakan Rp 1,5 juta untuk biaya pemakaman, padahal retribusi resminya hanya Rp 54.000.

“Warga kan menilai uang sebesar itu masuk ke kas Pemkot, padahal tidak. Yang jelek kan Pemkot Depok. Besarnya biaya pemakaman itu untuk biaya gali kubur. Pemkot harus tegas terhadap hal ini,” tandas Ketua Komisi B DPRD Kota Depok yang juga merupakan Ketua Fraksi PKS, Suparyono dalam Rapat Paripurna penyampaian pandangan fraksi-fraksi tentang raperda perubahan enam Perda tentang retribusi dan Organisasi Perangkat Daerah (DKP).

Mengenai status tukang gali itu dapat bahas lebih lanjut. “Tidak mungkin orang rang meninggal yang sudah tertimpa musibah harus membayar mahal untuk pemakaman. Bagaimana dengan warga yang tidak mampu. Ini harus dibenahi,” ujarnya.

Suparyono mengatakan, pihaknya juga mengusulkan Pemkot Depok melakukan pemakaman tumpang tindih atau bersusun. Ini sebagai antisipasi minimnya lahan pemakaman. Oleh karena itu ia meminta agar Pemkot Depok. Umumnya fraksi-fraksi di DPRD dalam rapat paripurna itu menyepakati enam Raperda perubahan enam Perda. Karena itu, rapat yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Kota Depok Naming D Bothin menyepakati pandangan fraksi-fraksi tersebut. umr/LI-08

HUT Korem, Kodim 0508/Depok Bersihkan Taman Makam Pahlawan Kalimulya

Sumber:  http://wandyalfahri.blogspot.com/ 27 Oktober 2011

Sebanyak 50 personil TNI dari Kodim 0508/Depok melakukan aksi bersih di area Taman Makan Pahlawan Kota Depok yang berada di Kelurahan Kalimulya, Sukmajaya, Depok, Kamis (27/10). Asi bersih yang dipimpin Pasiter Kodim 0508/Depok, Kapten Inf Iwan Setiawan ini merupakan karya bhakti TNI dalam rangka HUT Korem 051/Wijayakarta ke-13 sekaligus menyambut Hari Pahlawan 10 November 2011 mendatang.

Menurut Pasiter . Karya bhakti dilakukan dengan melibatkan anggota kepolisian sebanyak 10 personil dan masyarakt sekitar sebanyak 15 orang. Rencananya, kata Iwan pihak Korem akan menggunakan area makam pahlawan ini untuk upacara memperingati HUT Korem. Namun rencana itu dibatalkan karena pihak Korem telah menentukan tempat lain yaitu di Kota Bekasi.”Walaupun tidak jadi dipergunakan untuk upacara, tetap kita lakukan aksi bersih sebagai karya bhakti.”jelas Pasiter.

Ia mengatakan, seluruh personil yang ikut aksi bersih diambil dari seluruh koramil se-Kota Depok. Aksi bersih dimulai pukul 07.30 hingga pukul 10.00 WIB. Sasaran kegiatan meliputi pembersihan beberapa makam, halaman taman, jalan makam dan pengangkutan sampah. “Tujuan kegiatan ini dilaksanakan sebagai peran serta TNI dalam memelihara kebersihan lingkungan.”tandas Iwan.(wandy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: