Artikel

Memilih “Rumah Masa Depan”

Sumber: http://www.housing-estate.com/ 

Sekarang sejak masih hidup kita sudah bisa memesan bakal lahan makam kita.

Meskipun mati sesuatu yang pasti, siapa dari kita yang sudah mempersiapkan liang kuburnya sejak dini? Tidak ada, kecuali segelintiran kalangan berada seperti mantan Presiden Soeharto. Minimnya perhatian pada “rumah masa depan” itu, karena di kota-kota besar sudah tidak mungkin mencari lahan makam untuk pribadi atau keluarga. Di Jakarta misalnya, pemakaman sepenuhnya dimiliki dan dikelola pemerintah provinsi berupa tempat pemakaman umum (TPU).

Jumlahnya 106 TPU tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur, dengan luas total 578 ha dari rencana 787 ha. “Sekitar 200 ha lagi belum dimatangkan, masih berupa rawa. Dengan warga meninggal sekitar 100 orang/hari, areal TPU itu masih mencukupi,” kata Leofold Pasaribu, Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat Kantor Pelayanan Pemakaman DKI Jakarta.

Semua TPU dirancang dengan sistem tumpang hingga tiga jasad/liang. Setiap TPU dibagi dalam blok AA1, AA2, A1, dan A2 dengan retribusi Rp100 ribu, Rp80 ribu, Rp60 ribu, dan Rp40 ribu/jasad untuk tiga tahun. “Biaya perpanjangan tiga tahun berikutnya sama. Itu di luar biaya tukang gali dan lain-lain karena kami belum mampu menggaji tukang gali,” ujarnya.

Kontribusi developer

Sebagian areal TPU diperoleh dari kewajiban developer menyediakan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum). Menurut Endang Sudiatmaja, Kasubdin Pengkajian Penataan Lahan, Dinas Tata Kota DKI Jakarta, pemakaman termasuk fasos yang penyediaannya disesuaikan dengan jumlah penduduk. Di area berpenduduk 10.000 misalnya, harus tersedia tempat ibadah, gedung pertemuan, taman, dan lain-lain termasuk pemakaman. Hal serupa berlaku di wilayah sekitar Jakarta (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).

Di Depok pengembang wajib menyerahkan dua persen dari lahan yang dibebaskan untuk pemakaman. Lokasinya tidak harus di areal proyek, tapi bisa dengan membeli lahan di sekitar TPU yang ada. Depok memiliki lima TPU: Kalimulya 1 (2,5 ha), Kalimulya 2 (2,2 ha), Kalimulya 3, Sukmajaya (3,5 ha), dan Cimpean, Cimanggis (1,5 ha) yang dikelola Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup. Kalimulya 1 sudah penuh. “Tapi, empat TPU yang ada masih mampu memenuhi kebutuhan Depok sampai lima tahun ke depan,“ kata Plt Kepala UPTD TPU Purwanto. Retribusinya Rp54.000/tiga tahun, perpanjangan Rp44.000, untuk warga dari luar Depok Rp300.000.

Di Kota Tangerang pun begitu. Kasie Pemakaman Pemkot Tangerang Sasa Sukmana menyebutkan, sesuai dengan Permendagri No 1/1987 mengenai Penyerahan Prasarana Lingkungan, Utilitas Umum dan Fasilitas Sosial kepada Pemda, pengembang wajib menyetor 40 persen lahan yang dibebaskannya sebagai fasos fasum. Yaitu berupa jalan umum, taman, saluran, lampu penerangan jalan umum (PJU), dan lain-lain termasuk pemakaman sebanyak dua persen dari tanah yang dibebaskan.

Lahan makam bisa di areal proyek developer, bisa juga di TPU Selapanjang (10,4 ha) yang dikelola Pemkot Tangerang. TPU yang dibangun tahun 1996 itu sudah terisi sekitar empat ha. “Kami belum akan menambah area baru, karena TPU itu masih mencukupi sampai 15 tahun ke depan,” katanya. Sama seperti di Jakarta, TPU di Kota Tangerang memakai sistem tumpang (dua jasad/liang) dan tidak boleh dibangun permanen. Retribusinya Rp40.000/tiga tahun. Di luar itu di Kota Tangerang tanah makam disediakan di setiap wilayah.

Hak pakai

Di semua TPU itu warga hanya punya hak pakai dengan membayar retribusi izin penggunaan tanah makam (IPTM) untuk periode tertentu. Di Jakarta misalnya, setiap tiga tahun. Kalau tidak membayar, makam dianggap kadaluwarsa dan dibongkar untuk jasad lain. Kaveling makam tidak bisa dipesan di muka tapi hanya saat kita meninggal dunia.

Prosedurnya keluarga melapor ke RT/RW, dan puskesmas/rumah sakit setempat untuk mendapat surat keterangan pemeriksaan jenazah. Surat itu dibawa ke kelurahan untuk memperoleh surat keterangan kematian dan izin memesan tanah makam di TPU terdekat. Di TPU kita memilih petak makam yang diinginkan jika masih memungkinkan, menyelesaikan administrasi dan membayar retribusi untuk mendapatkan IPTM. Bila TPU terdekat sudah penuh, silakan cari ke TPU lain di Jakarta. Untuk semua proses itu pastikan Anda punya KTP DKI. Kalau tidak sebaiknya jangan mati di Jakarta. Yudiasis Iskandar, Yoenazh K Azhar

Salah satu cemetery di luar negeri, Pesan Makam Sejak Sekarang

Ketika dalam Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2004 ada stand yang menjual kaveling kuburan, mantan Gubernur DKI 1966 – 1977 Ali Sadikin (sekarang alm) dengan keras mengatakan, kuburan jangan dibisniskan. Tapi, melihat kualitas pengelolaan TPU yang buruk, siapa yang menyalahkan developer kalau membisniskan tanah kuburan?

Pemakaman yang dikembangkan developer lebih baik penataan dan pengelolaannya, jauh dari citra angker, seram, dan kurang terawat. Kita bisa memesannya sejak sekarang, sehingga jika ada kerabat yang meninggal kita tidak perlu pusing lagi. Proyek pemakaman pertama yang tercatat ditawarkan developer adalah Taman Memorial Graha Sentosa (200 ha) di Karawang, Jawa Barat.

Kemudian San Diego Hills (500 ha) yang dikembangkan Lippo Group, juga di Karawang. Akan menyusul sebuah taman pemakaman di Semarang, Jawa Tengah. San Diego Hills didesain berupa hamparan rumput hijau dihiasi aneka pohon peneduh dan danau yang bukan hanya indah tapi juga menenangkan. Jadi, makam benar-benar hadir sebagai taman peristirahatan di mana pengunjung bisa khusuk berdoa sembari mengenang keluarga yang dicintai dan merenungkan makna kematian.

Family centre

Proyek yang dipasarkan sejak tahun 2007 itu akan dikembangkan dalam 10 tahun, terbagi dalam beberapa cluster: Garden of Creation dan Faith dan Hope & Love Garden untuk Kristen, Heavenly Garden untuk Islam, dan Prosperity & Joy untuk Tinghoa/Budha. Ada juga Heroes Plaza untuk orang-orang yang berjasa dalam salah satu bidang. Pesepakbola legendaries Roni Pattinasarani misalnya, dimakamkan di Heroes Plaza. Saat ini yang sudah dikembangkan sekitar 50 ha.

San Diego juga dilengkapi family center dengan fasilitas seperti restoran, arena bermain + rekreasi, kolam renang, dan lain-lain selain rumah ibadah, kapel pernikahan, dan ruang pertemuan. Menurut Suziany Japardy, Direktur San Diego Hills, pemeluk semua agama setidaknya satu tahun sekali berkunjung ke pemakaman. Karena itu selain harus indah dan menenangkan, pemakaman juga perlu dilengkapi family center.

“Budaya orang Asia kalau mengunjungi makam selalu bersama keluarga. Dengan pemakaman yang indah, terawat, dan lengkap fasilitasnya mereka tidak malas datang ke makam,” katanya. Ia menyebutkan pemakaman di Amerika Serikat hanya mengusung keindahan tanpa family center. Jadi, San Diego Hills menjadi yang pertama yang menggabungkan keduanya. Family center itu diletakkan di Chappel Square yang berhias danau seluas delapan hektar.

Dana abadi

Kaveling makam tersedia mulai dari ukuran 1 x 2,6 m2 (Kristen/Katolik) dan 1,5 x 2,6 m2 (Islam, Tionghoa/Budha) untuk satu orang (single space). Harganya mulai dari Rp27 juta/kaveling. Ada juga kaveling untuk pasangan (dua orang) atau private estate yang diberi pembatas dengan makam sebelahnya, seharga mulai dari Rp125 juta dengan ukuran kaveling mulai dari 2,9 x 2,85 m2 tergantung agama, serta peak estate untuk satu keluarga dengan pesanan minimal 20 m2.

Yang terakhir ini dijual per m2 seharga mulai dari Rp15 juta/m2. Semua harga di atas sebelum diskon yang bisa mencapai 45 persen + 70 persen, termasuk dana abadi untuk pemeliharaan. “Pengelolaan makam akan ditangani perusahaan dari Lippo Karawaci,” katanya. Kalau dipakai (ada yang meninggal) kita membayar jasa pemakaman Rp4 juta dengan fasilitas tenda 5 x 5 m, 30 kursi, dua boks air mineral @48 cup, spanduk, pengeras suara, karpet dan tripleks. Harga batu nisan (untuk nonmuslim) lain lagi. Kaveling makam berstatus hak milik yang bisa diperjualbelikan. “Jadi, tanah makam ini juga investasi yang menguntungkan,” ujar Suzy.

TPU Karet Bivak Makam Sebagai Sumber Ekonomi

Selain karena tidak bisa dipesan di muka, orang jarang berpikir tentang bakal kuburnya karena faktor psikologis mistis, kecintaan yang berlebihan pada materi, dan terlalu memandang kematian sebagai musibah, bukan siklus yang wajar dalam sebuah kehidupan. Karena itu kematian dijauhkan dari pikiran, lokasi pemakaman diletakkan di pinggiran atau tersembunyi dari keramaian.

Cara pandang itu berdampak pada cara pengelolaan makam. Pemakaman tidak dikelola sebagai “taman” tapi sekedar “tempat” mengubur mayat. Karena itu pemakaman dibiarkan kurang terurus, penuh aura mistis dan menyeramkan. Akibatnya mengunjungi makam jauh dari nyaman dan khusuk.

Begitu memasuki area TPU pengunjung langsung dikerubuti para pekerja makam, penjual kembang, pembaca doa, sampai pengemis. Kita juga harus berjuang untuk menemukan makam yang dituju, karena tak ada petunjuk yang terang dan mudah diikuti. Padahal, di TPU ada puluhan ribu makam. Apalagi, tanpa membayar biaya tambahan kepada petugas TPU, kita tidak bisa berharap makam kerabat akan dirawat dengan baik kendati sudah melunasi retribusi, sehingga menyemak dan sulit dikenali.

Menurut arsitek lansekap Nirwono Joga, TPU memang paling sial nasibnya dibanding fasilitas publik lain. Lokasinya jauh dari keramaian, pengelolaannya amburadul dan menjadi ajang kepentingan birokrat, petugas makam, sampai broker pemakaman. Kebijakan Pemprov DKI menyeragamkan bentuk makam baru menyentuh aspek fisik, belum akar persoalan pengelolaan TPU.

“Sekarang kalau di Jakarta ada yang mati, kita bingung mau ngubur di mana. Yang kita bangun hanya hak hidup: mal, apartemen, dan seterusnya. Hak mati mana? Sekarang luas makam di Jakarta tinggal 575 ha dari kebutuhan 785 ha. Padahal, kematian adalah bagian dari perjalanan hidup,” katanya. Ia tidak bisa menerima alasan kekurangan dana dalam penyediaan lahan makam.

Pasalnya, kalau mau cerdas TPU bisa menjadi sumber ekonomi dan ruang spiritual kota. Di makam orang bisa mengenang dan belajar banyak hal termasuk sejarah kota dan republik ini dari tokoh-tokoh yang dikuburkan di situ. Seperti makam MH Thamrin, Chairil Anwar, Ibu Fatmawati, dan Benyamin S di TPU Karet Bivak, makam Bung Hatta di TPU Tanah Kusir, makam Soe Hok Gie (tokoh pergerakan mahasiswa), Mariamne Raffless (istri Gubernur Jenderal Raffles), dan Dr HF Roll (pendiri Stovia), di TPU Kebon Jahe atau Kerkof Laan (kini Museum Prasasti), serta makam Generaal Major AV Michiels dan JHR Kohler (panglima perang Belanda dalam perang Diponegoro, Klungkung, dan Aceh) di TPU Petamburan.

Ia menunjuk contoh taman pemakaman (cemetery) di Paris, Washington, New Orleans, London, Melbourne dan Sydney yang bukan hanya asri dan terawat, tapi setiap tahun dikunjungi jutaan turis yang ingin mengenang penyanyi rock n’ roll Elvis Presley, James Douglas Morrison (The Doors), Presiden John F Kennedy, dan lain-lain. Nama-nama pesohor yang dimakamkan di situ menjadi andalan promosi pengelola TPU untuk menarik pengunjung. Di situ pengunjung bisa melakukan wisata spiritual yang memperkaya batin, membaca, memotret, dan makan siang bersama.

Jadi, TPU bukan hanya berfungsi estetis dan ekologis, tapi juga edukatif, rekreatif, dan ekonomi. Semua taman pemakaman itu ada di pusat kota dikelilingi gedung perkantoran dan permukiman. Bahkan, view para kapitalis di gedung bursa Wall Street (New York) setiap hari adalah taman pemakaman Central Park yang tersohor itu. Masyarakatnya yang rasional tidak menghindari view itu, tapi menjadikannya sebagai refleksi bahwa suatu saat juga akan menghuninya. “Makam memberi mereka inspirasi yang jauh lebih kaya ketimbang mal-mal,” katanya.

Pastikan Rumah Masa Depan Anda

Sumber: http://www.housing-estate.com/ 

Fasilitas pemakamam juga perlu ditanyakan saat membeli rumah biar jelas di mana “rumah masa depan” Anda.

Mati adalah siklus hidup yang harus dilalui setiap manusia. Tapi, di kota besar mati kadang bukan urusan sederhana. Bukan karena orang kota kebanyakan dosa, tapi jasadnya mau dikubur di mana? Lahan di kota makin terbatas sehingga soal “rumah masa depan” itu jadi rumit. Bahkan, kalaupun lahan tersedia, belum tentu jasad Anda diterima.

Baru-baru ini warga sebuah desa di Bekasi menolakjenazah warga perumahan di dekatnya dikuburkan di pemakaman desa itu. “Ini pemakaman warga asli, bukan untuk pendatang,” teriak mereka berulang-ulang sambil mengusir dan melempar rombongan pengantar jenazah.

Jenazah terpaksa dibawa kembali pulang. Keluarganya pun shock menerima kenyataan itu. Pengalaman serupa terjadi di Ciputat, Tangerang. Jasad orang tua salah satu warga perumahan di sana tidak boleh dikubur di pemakaman terdekat. Prosesi pemakaman baru terlaksana setelah melibatkan aparat kelurahan.

Pengalaman itu tidak harus menimpa Anda bila saat membeli rumah Anda menanyakan fasilitas taman pemakaman umum (TPU) itu kepada developer. Setiap pemda sudah punya aturan mengenai fasilitas sosial tersebut. Developer wajib menyediakannya. Caranya saja yang berbeda.

Di Depok misalnya, developer harus menyerahkan dua persen dari seluruh tanah yang dibebaskannya untuk TPU, di Bekasi lima persen. “Kewajiban itu berlaku tanpa kecuali, baik untuk perumahan skala besar maupun kecil,” kata Sudrajat, Kepala Humas Pemkot Depok.

Developer bisa memenuhinya dengan membangun TPU di areal perumahannya, atau menggantinya dengan uang, selanjutnya bersama developer lain membeli tanah untuk TPU di lokasi yang sudah ditunjuk pemda. Developer tidak bisa mangkir karena kewajiban itu harus langsung dilaksanakan saat mengajukan izin.

Hanya DKI yang tidak mewajibkan developer menyediakan lahan TPU. Kebanyakan developer enggan membangun TPU di perumahannya, dan lebih suka mengganti kewajiban itu dengan uang. BSD City adalah satu dari sangat sedikit perumahan yang membangun fasilitas TPU sendiri.

Ada tiga areal TPU yang disediakan developer perumahan itu. “Semuanya kami kelola sendiri,” kata Kepala Divisi Public Affairs BSD City Dhony Rahajoe. Yang bisa memanfaatkannya tidak hanya warga BSD, salah satu pemakaman juga bisa dipakai warga sekitar.

Potret Penggali Makam

Oleh: Willy Maribata

Sumber:  http://sosbud.kompasiana.com/ 12 January 2011 

Hari masih pagi saat saya tiba di sebuah pemakaman umum. Di sini, lintasan waktu hanyalah sebuah keheningan syahdu. Letaknya jauh dari pusat kota, di pinggiran Jakarta, terselip di tengah perkampungan. Warga sekitar menamainya TPU Warga Bojong. TPU ini dikhususkan bagi warga Dusun Bojong, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukma Jaya, Depok, Jawa Barat.

Meski sederhana, TPU ini terlihat asri. Ini berkat lima orang penjaga makam, yang selalu setia merawat TPU setiap hari. Sejak warga Bojong mewakafkan areal seluas tiga hektar ini sebagai TPU bersama, mereka dipercaya menjadi perawat makam. Tak hanya itu, tugas mereka merangkap juga sebagai penggali kubur.

Mereka sedang mengaso waktu itu. Kemudian saya mendekat dan mengajak bicara salah satu dari kelimanya. Lelaki itu bernama Hanafi (63 tahun). Ia ditunjuk teman-temannya sebagai pemimpin mereka. Katanya, dahulu TPU Bojong tanpa penjaga. Barulah sekitar sepuluh tahun lalu, warga Bojong merasa perlu menunjuk mereka untuk merawat makam. “…Kalo saya belum lama, sejak istri saya meninggal tahun 2003, sejak istri saya udah gak ada ya saya ditaruh di sini, jadi penggali kubur gitu..”, cerita Hanafi kepada saya.

Keputusan Hanafi menjadi penjaga dan penggali kubur tidak terjadi begitu saja. Ia mengaku sempat menjalani pekerjaan lain sebelumnya. “…Kondisi badan udah tua, dulu saya jadi tukang bangunan, tenaga udah lemah, jadi gali-gali kubur gitu.. ..”, sambung Hanafi.

***

Melakoni profesi sebagai penggali kubur juga menjadi pilihan Menjat. Kakek berusia 1 abad, yang tertua di antara lima orang teman-temannya. Ia mengaku mengikuti jejak Hanafi, keponakannya, sejak 2 tahun silam. “…Kerjaan yang lain gak bisa, kerja bangunan juga gak ada.. ya terpaksa jadi gini..”, Menjat menjawab pertanyaan saya dengan terbata-bata.

Selain Hanafi dan Menjat, tiga anggota mereka yang lain yakni Salim (80 tahun), Mahmud (50 tahun) dan Ade Sophian (40 tahun). Kadang-kadang, ikut juga Sadiyono, anggota tambahan.

Mereka mengaku pesanan untuk menggali kubur tak pasti, tentunya tergantung jika ada warga yang meninggal. Jika tidak menggali kubur, mereka rutin membersihkan makam. Pagi-pagi sekali mereka sudah berada di makam, dan baru kembali ke rumah usai maghrib.

Upah mereka menggali dan merawat kubur sangat minim. Setiap bulan mereka digaji 150 ribu rupiah per orang. Upah itu dikumpulkan dari warga sekitar TPU. Bila mereka menggali kubur, keluarga dari orang yang meninggal, diwajibkan memberi upah tambahan. “…Untuk gali makam, tergantung, 1 makam dapat 100, tapi dibagi lima..begitu..”, ujar Hanafi.

Meski demikian, mereka ikhlas menjalani profesi ini. “…Untuk hidup banyak kurangnya daripada cukupnya, tapi alhamdulilah.. Allah yang memberi rejeki..”, sambung Hanafi.

Tak hanya hidup berkekurangan, banyak dari mereka juga mengaku, sudah tak punya siapa-siapa. “…Kalau istri udah gak ada, anak-anak masing-masing di rumahnya, saya tinggal sama anak yang bujang, dia yang ngurusin yang kasih makan..”, cerita Menjat. “…Anak-anak saya orang susah juga, dia gak bias kasih orang tua juga, ya gimana lagi..asal sehat….”, timpal Hanafi.

Bagi para penggali kubur ini, TPU warga Bojong seolah menjadi rumah kedua. Di sinilah mereka dengan setia mengakrabi kematian, dan kematian pun bersahabat dengan mereka. “…Alhamdulilah selama saya disini gak diganggu, aman-aman aja, kadang-kadang malam-malam juga saya gali makam…”, ujar Hanafi. “…Kagak ada yang ghoib-ghoib, orang bilang anu-anu, saya gak temuin….”, begitu cerita Menjat.

Menjat dan kawan-kawan hanyalah satu potret penjaga makam dari ribuan yang bertebaran di negeri ini. Di pemakaman, entah sampai kapan mereka akan tetap setia menjaga pusara-pusara bisu. Mereka tak punya harapan muluk. Hanya keikhlasan dan syukur atas rejeki yang diterima. Jasa mereka mungkin terlupakan, namun merekalah orang-orang di tapal batas, yang membantu kita membangun rumah terakhir, saat kita kembali menuju pencipta.

  1. Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!. Tak ada yang lebih menyedihkan dan mengharukan dari kisah Mangir Pembayun, seperti juga ketika saya bersimpuh di makam Pembayun Putri Panembahan Senopati Mataram di Kebayunan Tapos Depok Jawa Barat, bersebelahan dengan makam anaknya Raden Bagus Wonoboyo dan makam Tumenggung Upashanta, kadang sebagai trah Mangir, aku merasa bahwa akhirnya mataram dan mangir bersatu mengusir penjajah Belanda di tahun 1628-29, cobalah cermati makam cucu Pembayun yang bernama Utari Sandi Jayaningsih, Yang dimakamkan di Tapos Depok Jawa Barat Penyanyi batavia yang akhirnya memenggal kepala Jaan Pieterz Soen Coen pada tanggal 20 September 1629, setelah sebelumnya membunuh Eva Ment istri JP Coen 4 hari sebelumnya, kepala JP Coen yang dipenggal oleh Utari inilah yang dimakamkan di tangga Imogiri, Spionase mataram lagi lagi dijalankan oleh cucu Pembayun dan ki Ageng Mangir, informasi buka http://kelompok-tani.com : pahlawan kali sunter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: